![]() |
Hai. Namaku Kanya. Ya, hanya Kanya saja. Tidak lebih, tidak
kurang. Orang-orang biasa memanggilku Kan, Kani, Kanya, Jelek, Cungkring. Tenang,
hanya sebatas candaan, kok. Kamu bebas memangggilku apa saja.
Kehidupanku bisa dibilang menyenangkan. Keluarga dan teman-teman,
semuanya sempurna. Tanpa meninggikan diri, IQ-ku mencapai Superior. Lumayan,
kan?
Di sekolah, aku mengukir berbagai prestasi. Mulai dari
akademik hingga kegiatan fisik. Rasanya aku menyumbang sekitar 30% piala di sekolah.
Dan aku bangga akan hal itu.
Setahun lagi, aku akan lulus dari sekolah menengah atas ini.
Ya, saat ini aku duduk di kelas 12. Rasa-rasanya baru kemarin aku mengikuti
kegiatan MPLS. Yah tentu saja, waktu berlalu tanpa kita sadari.
Semua hal yang terjadi sangat sempurna, sampai pada suatu
hari kabar buruk itu datang. Rena, sobat karibku harus pindah sekolah lantaran pekerjaan
orang tuanya. Aku sedih tentunya. Akan tetapi, aku berusaha berpikir positif
bahwa kami masih bisa bertemu.
Hari-hari di kelas berjalan lancar seperti biasa. Teman-teman
datang ke sekolah, berdoa memulai pelajaran, mendengarkan guru berceloteh, asyik
bergosip antarteman sebangku, melontarkan candaan kecil yang menggelitik perut,
tanpa bersikap kasar mencoba meniru sikap menjengkelkan guru yang tak disuka. Rasanya
tak ada yang berubah. Semua tetap sama.
Namun, gejolak kecil muncul dalam diriku. Perasaan terenyuh
yang membuatku lantas diam tanpa sadar. Seketika aku merasa hampa dalam situasi
ingar-bingar.
Tanpa menyangkal, aku tahu dengan pasti penyebab kejadian
ini. Rena. Satu-satunya orang yang mampu membuatku merasa seperti ini. Pedih
dan lara tercampur aduk. Aku tak tahu ini terdengar melebih-lebihkan bagimu
atau tidak, tapi aku merasa salah satu sendi yang menggerakkanku raib begitu
saja. Aku lumpuh. Aku lumpuh tanpa kusadari sebelumnya.
Memang, awalnya aku merasa bisa bertahan dengan kepergian
Rena. Mencoba menyugesti diri dengan mengatakan bahwa kami akan bertemu lain
waktu. Akan tetapi kenangan demi kenangan datang, seakan terus-terusan
membantah, bahwa kami tak akan bisa bersama lagi.
Mengenal Rena tidak seistimewa yang kamu kira. Hanya pertemuan
canggung saat awal SMA, sapaan formal yang keluar dari bibir masing-masing,
gerakan spontan menjauh karena merasa tidak nyaman, dan lirikan mata jengkel
saat salah satu menyontek pekerjaan yang lain. Namun tanpa disadari kecanggungan
perlahan berubah menjadi sapaan akrab yang menjengkelkan, namun entah kenapa
terdengar hangat. Ditambah pula dengan adanya tugas kelompok, menjadi keharusan
tersendiri untuk semakin mengenal pribadi masing-masing.
Semakin mengenalnya, semakin banyak sisi lain yang terungkap
darinya. Perasaan ingin membantu satu sama lain muncul begitu saja. Aku dengan
kemampuanku mengajar dan dia dengan kemampuannya menciptakan suasana. Semuanya
terasa sempurna.
Mengingat kembali kejadian saat kami kesusahan mengerjakan
proyek sekolah, sampai akhirnya kami sukses menjalankan bisnis di sekolah.
Terlalu banyak yang harus diingat. Ya, terlalu banyak yang kami lewati bersama.
Dan kini, hanya ada aku yang terpuruk dalam kesedihanku sendiri.
"Kita akan merasakan betapa berharganya seseorang, saat kita kehilangan orang itu."
P.S. This story based on my real life and dedicated for my best friend.

Iq superior dan cungkring... Aku, kan?
ReplyDelete..dan jelek? iya bener banget :)
Delete