Peminta Rasa Iba (Sejumput Penyesalan)


Aku bangkit dari tidurku. Alas koran yang kugunakan sudah lembab rupanya. Segera kuambil kaos rombengku yang ada ditumpukan kardus bekas. Tak sengaja mataku menangkap sepeser koin yang ada dalam kardus itu. 200 rupiah. Lumayan untuk menambah hasil dari duduk di emperan toko kemarin.

Ya, aku adalah seorang pengemis. Kurangnya pengetahuan dan keputusasaan menjadikanku tidak memiliki niat untuk bekerja. Buang-buang tenaga, begitu pikirku. 

Dulu aku adalah anak yatim piatu yang bekerja sebagai OB (Office Boy) di sebuah kantor kecil. Namun, kantor tersebut bangkrut total dan aku harus berhenti dari pekerjaan itu. Aku bingung. Aku tidak punya uang untuk membayar kost kecilku. Untuk makan saja aku kepayahan. Aku pun terpaksa keluar dari kostku dan saat itulah pertama kalinya aku mencoba mendapatkan rasa iba orang lain. Aku senang karena dengan mudahnya aku mendapat uang. Oleh karena itu aku memilih menjadi seorang pengemis daripada capek-capek bekerja. 

Dari hari ke hari aku rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan makanku. Sampai pada suatu hari orang-orang enggan memberiku uang. Ada beberapa dari mereka yang berbisik di depanku, “Dasar, ‘kan masih bisa kerja. Masih punya anggota tubuh yang lengkap. Memang dasarnya saja pemalas!”. Kata-kata tersebut membuatku gelap mata dan akhirnya memutuskan untuk melakukan kebohongan besar.

Sejak seminggu yang lalu, aku mencari bekas perban dalam tumpukan sampah. Setelah itu kuikat pergelangan kakiku ke pahaku. Kemudian aku menggunakan celanaku yang sudah compang-camping. Aku menyamar sebagai orang yang lumpuh. Aku tahu hal ini tidaklah baik. Tapi dengan cara ini orang-orang akan iba padaku bukan? Hal ini terbukti benar. Orang-orang menatap prihatin padaku dan memberiku uang. Tatapan prihatin itulah yang kusuka karena dengan begitu orang akan memberikan uang dengan nominal yang lebih besar pula. 

Hari ini setelah aku menemukan uang 200 rupiah, aku bergegas ke emperan toko yang cukup dekat dengan gubuk tempatku tinggal. Setibanya di sana, aku memakai peralatanku di samping gerobak tua yang ada di sana. Setelah selesai aku pun duduk sambil memasang wajah memelas dengan tangan meminta. Orang-orang yang lewat pun mulai memberiku uang.

Panas matahari mulai terik membakar kerongkonganku. Aku haus. Saat kutoleh pandanganku ke belakang toko, kulihat seorang anak kecil berjualan semacam makanan ringan dan minuman. Kaki kecilnya yang lincah bergerak kesana kemari menawarkan dagangan. Kuperkirakan umur anak itu 6-7 tahun. Mungkin karena merasa diperhatikan, anak itu menoleh padaku. Ia pun berjalan ke arahku. Begitu tiba di tempatku, ia duduk sambil menyeka keringatnya lalu menatapku heran. 

“Oom nggak kerja, ya?” tanya anak itu. Aku malas menjawab. Namun karena anak itu terus menatapku, aku pun menjawab sekadarnya.

“Ini lagi kerja.” Kuperhatikan perubahan pada mimik wajahnya. Alisnya terangkat namun tak berapa lama kemudian ia terkikik sendiri. 

“Apanya yang lucu?” tanyaku agak kesal karena cengiran pada bibirnya tak kunjung hilang.

“Oom lucu sih. Kata Almarhumah bunda, kerja itu butuh tenaga dan kerja keras. Tapi dari seminggu yang lalu, aku lihat Oom cuma duduk-duduk di sini. Berarti ‘kan Oom nggak kerja.” ujarnya polos namun cukup menohokku. Anak kecil sok tahu, pikirku. Namun, aku memilih untuk tidak menanggapinya. Anak itu masih terus menatapku, tetapi kali ini cengirannya berubah menjadi senyum penuh arti.

“Aku tahu kok kalau Oom sebenarnya nggak lumpuh. Aku sering lihat Oom pura-pura pakai perban. Makanya aku mau kasitau Oom kalau itu bukan perbuatan yang baik. Almarhumah bunda juga bilang semenderita apapun kita, jangan pernah berbohong tentang nikmat yang sudah Tuhan berikan. Oom ‘kan punya anggota tubuh yang lengkap, kenapa harus pura-pura lumpuh?” tegas anak itu yang cukup membuatku merasa kaget dan malu. 

Bodoh. Apa yang selama ini kupikirkan? Anak kecil saja tahu bahwa ini semua salah. Dan ia juga berusaha untuk tidak mengemis sepertiku. Kenapa aku melakukan hal ini? Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Seketika aku menyesal tidak melanjutkan kerja kerasku dulu. 

Aku menatap matanya dan menemukan kesungguhan di sana seakan meyakinkanku untuk kembali ke jalan yang benar. Sudut bibirku pun menaik tanda sadar. Aku merasa tenang karenanya. Pun aku yakin Almarhumah bundanya akan bangga menyaksikan putra kecilnya tumbuh sebagai sosok yang arif bijaksana.

Comments