Aku kembali. Dengan kisah yang sama. Namun, mungkin
agak sedikit berbeda alurnya.
Dan inilah kisahku.
***
Beberapa bulan setelah kami memutuskan untuk mengakhiri
hubungan, aku merasakan gejolak tersendiri yang akhirnya memaksaku untuk
kembali menghubunginya.
Bukan.
Aku bukannya ingin kembali padanya. Hanya saja keadaan saat
itu, di mana kami akan berada di satu provinsi yang sama ketika kuliah di luar
kampung halaman, menjadikanku merasa bahwa hubungan pertemanan kami tidak boleh
putus begitu saja.
Selain itu, ia juga menghubungiku sebelumnya. Dan mengatakan
berbagai hal yang cukup menyedihkan jika kuingat lagi. Ia mengatakan bahwa ia
sadar dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dulu.
Huft.
Dibandingkan merasa kesal, aku lebih merasa prihatin dengan
keadaan kami. Bagaimana bisa hubungan yang dulunya sangat baik, berubah menjadi
asing hanya dalam sekejap?
Aku tak habis pikir. Apa yang harus kulakukan saat ia
menghubungiku kala itu. Akhirnya aku tidak melakukan apapun. Aku takut tindakan
yang kulakukan akan semakin menyakiti kami.
Makanya setelah cukup lama ia
menghubungi, giliran aku yang berinisiatif untuk memulai komunikasi. Aku
memutuskan untuk menemuinya.
Aku rasa bukan hal yang tepat apabila kami
terus-menerus berada dalam fase ‘tidak mengenal’ satu sama lain, padahal
sebelumnya kami adalah partner yang luar biasa.
Aku berusaha mendewasakan diri. Meskipun bisa kau bayangkan,
bagaimana sakit yang harus kutahan, ketika bertemu dengannya lagi. Ingin rasanya mengembalikan masa-masa indah dulu,
namun apa daya itu tak mungkin terjadi.
Setelah bertemu dengannya, aku lega karena ia baik-baik
saja. Dan saat itu pula aku mengasihani diriku sendiri. Mau sampai kapan menyembunyikan
kepedulianmu padanya?
Namun aku tak berkata apapun. Aku hanya berusaha
untuk terlihat baik-baik saja di depannya. Aku berusaha menampilkan keadaanku
yang biasa saja, bahkan setelah kehilangannya.
Di sana, kami bercerita banyak hal mengenai apa-apa saja
yang terjadi selama kami terpisah. Lambat laun, aku menyadari bahwa tidak buruk
juga untuk memulai pertemanan kembali dengannya. Kami tak segan untuk kembali
melontarkan candaan kecil yang menggelitik, meski diawali dengan kecanggungan
sesaat.
Aku merasa bahagia dengan keputusanku untuk menemuinya lagi.
Setelah pertemuan tersebut, kami kembali menjalin hubungan
baik. Semua berjalan dengan lancar. Aku dengan kegiatanku, dan ia dengan
kegiatannya.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Kegiatanku bisa
dibilang cukup menyita waktu. Aku bergabung dalam berbagai komunitas, di mana
aku bisa bergaul dan berkumpul bersama orang-orang baru di dalamnya. Tanpa
kusadari, aku pun mulai bisa melupakannya seiring dengan bertambahnya
kesibukanku.
Kami tetap berteman. Walau tidak se-intens dulu, tapi semua
baik-baik saja.
Namun, entah mungkin karena aku yang terlalu peka, atau
malah karena aku yang terlalu 'pede', aku merasa sikapnya berubah, tidak seperti
teman pada umumnya. Aku mulai merasa ia menyimpan sesuatu yang ingin
disampaikannya padaku. Tidak jarang pula ia memberikan sinyal untuk memulai
kembali kisah yang dulu sempat terputus.
Kau tahu apa yang kurasakan?
Aku sedih.
Di satu sisi, aku masih sangat menyayanginya. Namun perasaan
sayangku sudah berbeda. Aku sayang kepadanya, namun hanya sebatas teman. Entah
ini mungkin terjadi karena perasaan tersakiti yang pernah kualami dan sangat
membekas dalam ingatanku.
Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin terluka lagi.
Saat ini, kami tetap berteman. Namun aku tidak tahu apa ia
masih menginginkan pertemanan ini, setelah aku memutuskan untuk tidak akan
pernah kembali lagi padanya.
Aku hanya ingin berteman, seperti orang-orang pada umumnya.
Mungkin memang menyedihkan, karena jauh di dalam diriku masih merasa bahwa hubungan romansa
kami bisa dipulihkan kembali. Akan tetapi, rasa takutku jauh lebih besar.
Aku tidak mau mengulang kembali kisah yang sama. Dan
akhirnya akan jatuh lagi ke lubang yang sama. Lubang yang gelap dan dalam. Aku
masih ingat betul bagaimana aku berupaya keras untuk keluar dari lubang yang
sangat menyiksaku itu.
Ku harap, keputusanku benar untuk melihatnya kembali seperti
orang yang sama di awal kami bertemu; sebagai teman biasa.
***
Lagipula, pertemanan jauh lebih abadi ketimbang percintaan, ‘kan?

Comments
Post a Comment