Ini Ceritaku Bersamanya (2)


Hai. 

Aku kembali. Dengan kisah yang sama. Namun, mungkin agak sedikit berbeda alurnya.

Dan inilah kisahku.

***
Beberapa bulan setelah kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan, aku merasakan gejolak tersendiri yang akhirnya memaksaku untuk kembali menghubunginya. 

Bukan.

Aku bukannya ingin kembali padanya. Hanya saja keadaan saat itu, di mana kami akan berada di satu provinsi yang sama ketika kuliah di luar kampung halaman, menjadikanku merasa bahwa hubungan pertemanan kami tidak boleh putus begitu saja.

Selain itu, ia juga menghubungiku sebelumnya. Dan mengatakan berbagai hal yang cukup menyedihkan jika kuingat lagi. Ia mengatakan bahwa ia sadar dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dulu. 

Huft. 

Dibandingkan merasa kesal, aku lebih merasa prihatin dengan keadaan kami. Bagaimana bisa hubungan yang dulunya sangat baik, berubah menjadi asing hanya dalam sekejap? 

Aku tak habis pikir. Apa yang harus kulakukan saat ia menghubungiku kala itu. Akhirnya aku tidak melakukan apapun. Aku takut tindakan yang kulakukan akan semakin menyakiti kami. 

Makanya setelah cukup lama ia menghubungi, giliran aku yang berinisiatif untuk memulai komunikasi. Aku memutuskan untuk menemuinya. 

Aku rasa bukan hal yang tepat apabila kami terus-menerus berada dalam fase ‘tidak mengenal’ satu sama lain, padahal sebelumnya kami adalah partner yang luar biasa. 

Aku berusaha mendewasakan diri. Meskipun bisa kau bayangkan, bagaimana sakit yang harus kutahan, ketika bertemu dengannya lagi. Ingin  rasanya mengembalikan masa-masa indah dulu, namun apa daya itu tak mungkin terjadi. 

Setelah bertemu dengannya, aku lega karena ia baik-baik saja. Dan saat itu pula aku mengasihani diriku sendiri. Mau sampai kapan menyembunyikan kepedulianmu padanya? 

Namun aku tak berkata apapun. Aku hanya berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depannya. Aku berusaha menampilkan keadaanku yang biasa saja, bahkan setelah kehilangannya. 

Di sana, kami bercerita banyak hal mengenai apa-apa saja yang terjadi selama kami terpisah. Lambat laun, aku menyadari bahwa tidak buruk juga untuk memulai pertemanan kembali dengannya. Kami tak segan untuk kembali melontarkan candaan kecil yang menggelitik, meski diawali dengan kecanggungan sesaat.

Aku merasa bahagia dengan keputusanku untuk menemuinya lagi.

Setelah pertemuan tersebut, kami kembali menjalin hubungan baik. Semua berjalan dengan lancar. Aku dengan kegiatanku, dan ia dengan kegiatannya. 

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Kegiatanku bisa dibilang cukup menyita waktu. Aku bergabung dalam berbagai komunitas, di mana aku bisa bergaul dan berkumpul bersama orang-orang baru di dalamnya. Tanpa kusadari, aku pun mulai bisa melupakannya seiring dengan bertambahnya kesibukanku. 

Kami tetap berteman. Walau tidak se-intens dulu, tapi semua baik-baik saja.

Namun, entah mungkin karena aku yang terlalu peka, atau malah karena aku yang terlalu 'pede', aku merasa sikapnya berubah, tidak seperti teman pada umumnya. Aku mulai merasa ia menyimpan sesuatu yang ingin disampaikannya padaku. Tidak jarang pula ia memberikan sinyal untuk memulai kembali kisah yang dulu sempat terputus.

Kau tahu apa yang kurasakan? 

Aku sedih.

Di satu sisi, aku masih sangat menyayanginya. Namun perasaan sayangku sudah berbeda. Aku sayang kepadanya, namun hanya sebatas teman. Entah ini mungkin terjadi karena perasaan tersakiti yang pernah kualami dan sangat membekas dalam ingatanku. 

Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin terluka lagi.

Saat ini, kami tetap berteman. Namun aku tidak tahu apa ia masih menginginkan pertemanan ini, setelah aku memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi padanya.

Aku hanya ingin berteman, seperti orang-orang pada umumnya. Mungkin memang menyedihkan, karena jauh di dalam diriku masih merasa bahwa hubungan romansa kami bisa dipulihkan kembali. Akan tetapi, rasa takutku jauh lebih besar. 

Aku tidak mau mengulang kembali kisah yang sama. Dan akhirnya akan jatuh lagi ke lubang yang sama. Lubang yang gelap dan dalam. Aku masih ingat betul bagaimana aku berupaya keras untuk keluar dari lubang yang sangat menyiksaku itu.

Ku harap, keputusanku benar untuk melihatnya kembali seperti orang yang sama di awal kami bertemu; sebagai teman biasa.

***
Lagipula, pertemanan jauh lebih abadi ketimbang percintaan, ‘kan?

Comments