Ini Ceritaku Bersamanya

Ini ceritaku bersamanya.

Bukan cerita yang istimewa. Hanya cerita biasa -agak klise- karena ini kutulis saat usiaku menginjak 18 tahun.

Entah ini dinamakan cerita cinta monyet atau bukan, aku hanya menuliskannya saja.

Dan inilah kisahku.

***

Tiga tahun aku menghabiskan masa Sekolah Menengah Atas di suatu sekolah yang tidak perlu kusebutkan namanya. Tiga tahun yang penuh dengan kenangan, namun juga bisa dibilang tidak. Sebab aku merasa biasa saja, atau mungkin karena beberapa kejadian yang tidak ingin kuingat sama sekali. 

Orang bilang, masa putih abu-abu adalah masa paling indah. Benarkah begitu? Aku agak sedikit meragukannya. 

Aku tidak pernah bertemu orang yang pantas kuanggap sebagai Pangeran Berkuda Putihku. Semua orang terasa mengacuhkanku. Atau mungkin aku yang mengacuhkan sekitarku? Entahlah.

Hari-hari kujalani tanpa banyak gejolak. Bisa dibilang santai tapi lama kelamaan mulai terasa membosankan. Akhirnya aku mengerahkan kebosananku pada pelajaran. Hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar, bukan? 

Tanpa bermaksud sombong, aku berhasil mencapai tingkat tertinggi di sekolah. Ya, aku menduduki peringkat pertama secara umum. Insentif yang diberikan sekolah semakin menguatkan tekadku untuk fokus pada hal ini. 

Akan tetapi, mempertahankan justru lebih sulit daripada mendapatkan. Hari-hari yang kulalui setelah mendapat gelar tersebut malah semakin memberatkanku. Beban di pundakku seakan bertambah satu persatu seiring berjalannya waktu. Tak jarang orang mencemooh dengan agak meragukan kemampuanku serta keberhasilanku mencapai tingkat tertinggi itu. 

Sebab sejujurnya aku bukan seorang jenius. Aku hanya melampiaskan kebosananku pada pelajaran, sehingga mau tak mau aku menjadi sangat fokus dengan hal tersebut. Aku percaya bahwa yang bertekad-lah yang akan menang. Bukankah begitu?

Namun, dengan semua cemoohan dan keraguan dari sekitar, malah memaksaku untuk bisa membuktikan diri bahwa aku pantas berada di posisi tersebut. Lama kelamaan, aku menjadi terbiasa dengan rutinitasku yaitu belajar sepanjang waktu. 

Siapa yang butuh pasangan ketika kamu bisa mengerjakan semuanya sendiri? Kira-kira begitulah isi pikiranku saat itu. 

Kisah romansa pada masa putih abu-abu yang diceritakan banyak film di bioskop, sama sekali tidak membuatku iri. Mungkin memang lebih baik tidak memiliki pasangan, kan?

Waktu berlalu cepat tanpa kusadari. Akhirnya aku sampai pada masa-masa menegangkan yang akan menentukan lulus tidaknya aku dari Sekolah Menengah Atas ini. Ya, Ujian Nasional.

Sebelum kami para siswa benar-benar menjalani ujian tersebut, sekolah kami mempersiapkan untuk memindahkan siswa sesuai mata pelajaran peminatan yang akan dipilih sebagai mata uji. 

Berhubung aku sempat mengikuti Olimpiade Fisika saat kelas 11, aku memutuskan untuk mengambil kelas Fisika saat ujian nanti. Lebih baik memilih hal yang sudah kamu kuasai, bukan? 

Akhirnya siswa di kelasku berpencar sesuai mata pelajaran yang kami pilih. 

Dan di saat itulah aku bertemu dengannya. 

Pria yang tak pernah kusangka akan mengubah jalan hidupku ke depannya.

Awalnya aku merasa biasa saja. Dia sama seperti orang lain yang sudah biasa kutemui. Atau mungkin karena aku yang merasa tidak tertarik dengan siapapun. 

Akan tetapi jangan salah sangka denganku. Meskipun aku tidak tertarik menjalin hubungan spesial dengan orang lain, aku termasuk orang yang cukup mudah menjalin pertemanan. 

Pria tersebut duduk di belakang bangkuku. Tanpa segan, aku menyapanya terlebih dahulu. Aku menawarkan diri untuk membantunya dalam mengerjakan soal Fisika, sebab aku merasa mampu untuk melakukannya. 

Awalnya dia merespon dengan agak dingin. Namun dalam pikiranku cuma satu, ‘mungkin dia malu’. Makanya aku memakluminya. 

Atau mungkin dia merasa aku agak berlebihan, ya? Ah entahlah. Bukankah niatku baik? Untuk apa memikirkan kemungkinan buruk bahwa dia menganggapku aneh? Akhirnya aku cuek saja.

Hari demi hari aku tetap mengajaknya berbicara sampai dia mulai membuka diri. Pertanyaan aneh yang kulontarkan seputar tanggal lahirnya mungkin agak sedikit menggelitiknya dan membuatnya tertarik. Mungkin. Aku juga tidak tahu kebenarannya. 

Sebenarnya aku tidak merasa itu hal yang istimewa. Karena kalaupun bukan dia yang duduk di belakangku, aku pasti tetap akan mengajaknya berbicara. Sebab aku senang berteman dengan orang lain tanpa ada maksud sedikitpun untuk lebih jauh dari sekedar pertemanan. 

Tanpa terasa, kami menjadi lebih dekat satu sama lain sejak dia memutuskan untuk menghubungiku lewat chat di media sosial. 

Seru. Satu kata yang terlintas di pikiranku saat kami berkomunikasi satu sama lain. 

Akhirnya sejak saat itu, kami menghabiskan waktu bersama. Belajar bersama, bermain pun juga bersama. Dan yang kurasakan saat itu adalah, ternyata bahagia sesederhana itu. 

Akan tetapi, kau tahu tidak? Perasaan lebih dari teman, cepat atau lambat akan menghancurkan suatu hubungan. Tentu saja awalnya aku tidak berpikir demikian, namun setelah kami mencoba untuk keluar dari zona pertemanan, semuanya berubah.

Kami yang dulu terbiasa bersenda gurau, bertukar kalimat konyol menyebalkan namun entah kenapa terdengar hangat, kini menjadi renggang oleh karena sesuatu yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. 

Adanya status membuat kami lebih berhati-hati satu sama lain, mungkin karena alasan ‘tidak mau menyakiti hatinya’ atau hal semacam itu. Semua berubah. Ya, sangat berubah.

Kebohongan demi kebohongan yang dilontarkan semasa pacaran, rasa tidak enak mengakui keburukan pasangan, malah semakin menggerogoti dan mencekik kami. 

Sampai akhirnya kami menyadari bahwa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan. Semuanya bertambah runyam.

Siapa bilang setelah putus cinta masih bisa jadi sahabat?

Sekeras apapun kau mencoba, tidak ada jalan kembali setelah memiliki perasaan cinta. Mau mengelak dengan mengatakan ‘ah dulu kan kami teman baik, pasti setelah putus pun kami masih bisa bersama lagi dan baik-baik saja’.

Putus cinta tidak sesederhana itu. It is complicated. 

Perasaan sayang yang sebelumnya kau berikan dengan notabene ‘sahabat’ mulai kau ganti sejak kau berpacaran dengannya. Lalu setelah putus, apa bisa mengembalikan rasa sayang sebagai ‘sahabat’ begitu saja?

Terlalu banyak kesakitan yang kau pendam, justru semakin memperparah luka. 

Kau perlu untuk mengobati dirimu sendiri, baru kemudian bisa memutuskan untuk melihatnya kembali sebagai orang yang sama di awal kalian bertemu.

***

Awalnya aku ingin menceritakan manisnya persahabatan yang berujung cinta. Akan tetapi, di tengah pengerjaan naskah ini, kutemui banyak kesulitan yang justru membuat kami kian asing. 

Untukmu, seseorang yang kutujukan di sini, entah kau membacanya atau tidak, kini mari kita hidup di jalan masing-masing. Kau dengan dunia barumu dan aku dengan kenangan yang mati-matian kukubur demi kelangsungan hidupku. Terima kasih sudah menghiasi hari-hariku yang penuh kekosongan, meski akhirnya kau juga yang membuat kekosongan itu tampak jelas di depan mataku.

No offense, just let me breath for now. And let’s meet again when I am strong enough to look at you without this sh*t feeling in me.

Comments