Biar kuceritakan. Kisahku dengannya.

***
Kali ini akan kutuliskan cerita yang cukup lucu. Namun, ketika kubilang lucu, jangan berekspektasi bahwa
ceritanya akan benar-benar ‘lucu’.
Semua bermula ketika aku memutuskan untuk melayani Tuhan di gereja. Ya, aku
mengikuti suatu paguyuban lektor di Yogyakarta.
Awalnya aku tidak tahu bagaimana bisa merasa sangat tertarik dengan posisi
lektor tersebut. Dan kebetulan mereka sedang mengadakan perekrutan anggota,
sehingga aku langsung mendaftarkan diri.
Masuk ke dalam komunitas tersebut membuatku sadar bahwa banyak sekali
perkumpulan positif yang berada di sekitar kita, hanya saja mungkin kita belum
menyadarinya.
Bertemu dengan kakak-kakak senior serta pelatih yang baik hati menjadikanku
kerasan berada dalam lingkaran tersebut.
Aku merasa bertumbuh. Dalam iman tentunya.
Paguyuban lektor yang kuikuti memiliki beberapa kegiatan, salah satunya
yaitu koor gereja. Aku segera mengikuti koor tersebut ketika libur kuliahku
hampir usai.
Sampai akhirnya aku bertemu dengannya.
Pria kedua yang benar-benar membuat pikiranku terbuka, setelah ayahku tentu
saja.
Awalnya kukira ia sama saja seperti pria pada umumnya.
Banyak bicara, banyak rayuan yang ditujukan pada anak-anak baru sepertiku. Tentu
saja dalam konteks bercanda sehingga aku memakluminya.
Aku membentuk pola pikir seperti ini, “tidak usah
diambil hati, toh nanti akan bosan
sendiri dan pergi”.
Namun entah mengapa, pria tersebut tak kunjung pergi
dari hidupku.
Aku heran. Padahal sudah banyak alasan yang
kulontarkan agar aku tak bertemu dengannya lagi.
Bukan karena aku membencinya. Bukan.
Hanya saja aku merasa akan jauh lebih berbahaya
apabila kami tetap dekat.
Akan tetapi, lambat laun semua mulai berjalan normal.
Aku tidak tahu, apakah kini aku mulai terbiasa dengannya yang selalu hadir
dalam setiap kehidupanku.
Ia adalah orang pertama yang kuceritakan mengenai
peristiwa-peristiwa melelahkan yang belakangan ini muncul dalam kehidupanku.
Dan entah mengapa, ia selalu punya cara dan jawaban
yang tepat sehingga membuatku nyaman. Dan mau tak mau selalu rindu untuk
bercerita kembali padanya.
Aku yakin Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan,
pun memisahkan. Jika Ia berkehendak untuk mendekatkanku padanya, maka semua
akan terjadi. Bahkan jika di akhir nanti, kami harus berpisah, aku rasa memang
itu yang terbaik.
Karena kembali lagi; Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan yang seharusnya, pun
memisahkan yang tidak seharusnya.
Bagaimana? Apakah cukup lucu? Hehe.
Comments
Post a Comment