Aku Memilih Mundur


“Udah lama nyampe?” 

Seorang pria tiba-tiba muncul di hadapanku. Pria yang kutunggu sejak tadi.

“Engga kok. Sini duduk.” ajakku mengundang pria itu untuk duduk di sampingku.

Kala ia mendekat, terhirup aroma tubuhnya. Masih parfum yang sama, batinku.

Saat ini kami sedang berada di salah satu pantai favorit kami. Di saat lelah, atau hanya sekadar bermain-main, kami selalu melepas penat di sini.

Kenalkan, aku adalah salah satu dari sekian banyak perempuan di dunia. Tidak ada yang spesial dariku. Biasa saja. Sederhana. Namun aku cukup percaya pada diriku. 

Dan orang di sampingku, adalah orang yang cukup rumit untuk kuperkenalkan. 

Ia adalah temanku. Pria yang juga biasa saja. Sederhana. Namun sangat berarti bagiku.

“Jadi, ada apa? Tumben bilang mau ketemu tapi ngga mau aku jemput.” ujarnya setelah ia benar-benar duduk di sampingku.

Aku menghela napas panjang. 

“Gimana kabarmu? Baik-baik aja kan?” tanyaku berbasa-basi. Kulihat ia memincingkan matanya, curiga.

“Sekian lama kenal, kamu ngga pernah nanya kabar tuh. Kamu bilang itu lebay. Ada angin apa sekarang tiba-tiba nanya?” todongnya dengan nada curiga.

Aku hanya terkekeh kecil. Ia sangat mengenal diriku, bahkan mungkin melebihi diriku sendiri.

“Bener juga. Udah berapa lama ya kita kenal? Aku inget dulu kamu cupu banget.” ujarku sembari menggodanya. Kulihat ia cemberut dan menggerutu kecil.

“Udah dong. Gausah bahas masa lalu. Kalau kata Tegar, ‘aku yang dulu bukanlah yang sekarang’. Yang penting kan sekarang aku jadi idola para wanita.” Ia tersenyum bangga. Mungkin ia berusaha menghibur diri. Namun mendengar perkataannya, membuatku teringat alasan mengapa aku ingin menemuinya kali ini.

Entah aku harus mulai dari mana. Sebetulnya hubungan kami sangat rumit. Aku mengenalnya sejak masa putih abu-abu. Saat itu bisa dibilang adalah masa-masa yang lugu, tidak mengetahui perasaan masing-masing dan hanya berusaha untuk berteman seadanya. 

Akan tetapi, entah sejak kapan perasaanku berubah. Aku menyukainya.

Aku tidak tahu apakah ini wajar atau tidak. Sejak perasaan itu tumbuh, aku terus berusaha membohongi diri sendiri. Aku tak mau menodai pertemanan kami dengan perasaan labil yang nantinya hanya akan menggerogoti kami. 

Padahal sebelumnya aku berpikir demikian, tapi hari ini aku merasa perlu mengutarakannya.

“Kamu sayang aku ngga?” tanyaku blak-blakan. Ia terdiam, seperti berusaha mencari kata yang tepat.

“Sayang lah. Kamu kan temanku.” jawabnya dengan ekspresi ‘untuk apa bertanya demikian?’.

Aku tersenyum miris. Teman. Nyatanya, sampai kapanpun ia hanya akan menganggapku sebagai seorang teman.

“Salah ngga, kalau aku sayang sama kamu..?” tanyaku padanya. Spontan ia menjawab.

“Engg...” Namun, aku segera memotong jawabannya.

“...lebih dari seorang teman?” lanjutku. Ia terlihat terkejut. Ia menatap mataku dalam-dalam. Namun aku tidak berusaha menghindar. Aku lelah dengan perasaan ini. Aku hanya ingin menegaskannya kali ini.

Tapi setelah kutunggu pun, ia tetap terdiam. 

“Susah ya pertanyaanku?” tanyaku lagi. Aku tersenyum getir melihatnya memalingkan muka.

Aku pun menghela napas dan terdiam cukup lama. Nampaknya ia juga tidak berusaha menjawab. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kamu tau, aku orang yang mudah terbuka dengan siapapun. Bahkan saat pertama ketemu kamu, aku ngga kepikiran macem-macem. Sekedar mau temenan aja. Tapi setelah kenal, aku sadar kamu beda. Kamu spesial di mataku. Cuma kamu, orang yang mengerti aku dan mau mendengarkan keluh kesahku. Entah sejak kapan, aku jadi bergantung sama kamu.” ujarku sambil menatap kosong ke depan. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya saat aku berkata demikian. 

“Tapi kamu kan tau kalau aku..” ucapnya menggantung. Tanpa dilanjutkan pun, aku sudah mengerti maksudnya. 

“Michelle ya? Kamu masih suka sama dia?” tanyaku. Ia tak menjawab.

Pria ini bodoh. Sudah jelas bahwa perempuan yang diincarnya tidak menyukainya. Lalu untuk apa berusaha keras mengejarnya? Bodoh. 

Walaupun begitu, aku tetap menyayangi pria ini. Aku harus bagaimana?

“Kamu pernah bilang, kalau kamu mau pacaran. Apa kamu akan bahagia kalau itu terwujud dengan Michelle?” tanyaku lagi. Sekilas aku melihatnya mengangguk dari sudut mataku karena aku tetap menghadap ke depan.

“Apakah.. apa aku ngga punya kesempatan sama sekali?” tanyaku lirih, entah ia mendengarnya atau tidak.

“Aku engga mungkin bisa sama kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku ngga bisa melihatmu lebih dari teman. Karena aku ngga sanggup kehilangan kamu nantinya kalau kita bertengkar.” Ia mengeluarkan pendapatnya setelah sekian lama kutunggu.

Tanpa sadar aku mendengus. Alasan klasik, batinku.

Aku tau ia menolakku. Hanya saja ia tak enak karena kami sudah berteman lama. Namun aku cukup puas dengan jawabannya. Dengan ini aku bisa menentukan langkahku.

“Terima kasih karena sudah memberiku jawaban. Aku tau pertemanan kita sangat berharga. Aku sayang kamu. Tapi aku juga menyayangi diriku sendiri. Untuk saat ini, aku ngga kuat liat kamu deket sama cewe lain. Aku ngga tahan denger kamu curhat tentang cewe lain. Siapapun itu. Aku tau aku egois. Ngga seharusnya seorang temen kayak gini. Makanya aku tau diri, dan aku memilih mundur kali ini.” tegasku padanya. Kulihat ia sangat terkejut akan keputusanku.

“Maksudmu, kamu ngga mau temenan sama aku lagi?” tanyanya sedih. 

Aku menggeleng dengan cepat.

“Bukan. Kita akan selalu jadi teman baik. Tapi tolong, untuk saat ini jangan hubungi aku. Aku akan berusaha untuk ngelupain perasaanku ke kamu. Jadi nantinya kamu ngga perlu khawatir akan perasaanku.”

Untuk saat ini, aku hanya lelah. Menyukai orang yang sama dalam waktu yang lama, ternyata sangat menguras tenaga.

“Lalu kapan aku boleh hubungi kamu?” tanyanya penasaran.

Aku hanya tersenyum. Mungkin kali ini aku sadar mengapa orang-orang lebay di luar sana sering mengatakan, waktu akan menjawabnya. Ternyata inilah saat yang tepat untuk menggunakan kalimat tersebut.

Aku merasa menyedihkan. Tangis yang sedari tadi kutahan, dengan kurang ajarnya menetes perlahan. Aku segera berdiri, sebelum ia menyadari.

“Aku pamit. Aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal. Karena nyatanya, tak ada yang benar-benar selamat saat mereka ditinggalkan.” tutupku sambil melangkah pergi. 

***

Ketegasan sungguh menyakitkan. Kuharap, kau mengerti maksudku. Ya, teruntuk kau yang kutujukan dalam naskah ini. Sampai jumpa.

Comments