Hanya Pengingat



Kata orang, hidup itu murah. 

Gengsinya saja yang mahal.

Memang benar sih.

Toh, yang dibutuhkan hanya sandang pangan papan saja, bukan?

Tapi tunggu.

Bagaimana dengan sandang yang menjuntai bak putri raja?

Bagaimana dengan pangan yang berhiaskan permata?

Bagaimana dengan papan yang bertingkat nan megah?

Ah, itukah yang dinamakan gengsi?

Namun entahlah.

Bagiku itu tetap manusiawi.

Wajar ‘kan bila manusia ingin dipandang?

Wajar ‘kan bila manusia ingin dihormati?

Bukan apa-apa.

Hanya saja terkadang orang menilai berdasarkan penampilan.

Apa yang ia kenakan, apa yang ia makan, di mana ia tinggal.

Lalu, apakah masih berhak menilai orang lain berdasarkan gengsi yang ia miliki?

Nyatanya, masih banyak yang berpikiran sempit.

Percuma sekolah tinggi-tinggi, kalau ternyata otak hanya dipakai seujung jari.

Ah, terlalu kejam ya?

Aku akan meminta maaf jika perkataanku salah.

Tapi bagaimana ya, aku tidak merasa bersalah tuh.

Cobalah untuk berpikir ulang.

Setiap orang memiliki porsinya masing-masing.

Hiduplah sebagaimana kamu telah diciptakan.

Masing-masing boleh memiliki keinginan dalam hidupnya.

Tidak usah mengatakan ”gausah banyak gaya, udah tau hidupnya susah”

Apa mereka meminta uang kalian?

Apa mereka merugikan kalian?

Bagiku, mereka hanya mencoba bertahan.

Bertahan dari kerasnya dunia yang menutup mata pada kebaikan seseorang dan hanya melihat dari luarnya saja.

Mau menetralisir keadaan dengan mengatakan “don’t judge a book by its cover”?

Basi.

Mana ada yang mau membeli buku jika tidak melihat sampulnya terlebih dahulu?

Menimang apakah pantas membeli buku jika desain dan sinopsis di bagian belakang tidak menarik.

Memang ada beberapa orang yang berpikir demikian.

Tapi berapa banyak?

Jika ada 1% saja, aku sudah bersyukur.

Sudahlah.

Inti dari tulisan kurang ajar yang kubuat ini adalah; hiduplah dengan baik. Tidak perlu mengurusi orang lain selagi mereka tidak merugikanmu. 

Akhir kata, sampai jumpa di lain kisah. 

Dariku, yang muak dengan ke-soksuci-an orang-orang.

Comments